SEBUAH masa depan besar berawal dari sarapan.
Kendati terdengar sepele, sejatinya sarapan atau makan pagi memiliki
peran sangat penting dalam pembentukan masa depan anak-anak. Berkat
sarapan yang benar, maka masa depan yang gemilang akan berada dalam
genggaman.
"Masa depan anak-anak banyak ditentukan oleh kebiasaan
mereka saat ini, salah satunya adalah membiasakan diri untuk sarapan
yang bergizi," ungkap Prof Hardinsyah, Guru Besar Departemen Gizi
Masyarakat IPB di Jakarta, Selasa (27/3).
Usia sekolah, terutama
usia 7-13 tahun merupakan masa pertumbuhan paling pesat kedua setelah
masa balita, di mana kesehatan yang optimal menghasilkan pertumbuhan
yang optimal. Namun faktanya, status gizi anak usia sekolah saat ini
masih memperihatinkan.
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar
2010, secara nasional prevalensi anak pendek (kerdil) dengan usia 6-18
tahun masih tinggi, yakni di atas 30 persen.
"Prevalensi anak
pendek juga ikut mencerminkan adanya riwayat kurang gzi, yang bisa
mengancam masa depan mereka," tambah Hardinsyah.
Sarapan dapat
memenuhi 15-30 persen kebutuhan gizi harian sebagai bagian dari gizi
seimbang dalam rangka mewujudkan hidup sehat, bugar, aktif dan cerdas.
Namun sayangnya masih banyak anak Indonesia yang tidak sarapan.
Bagi
orang tua, khususnya ibu, masalah utama untuk membiasakan sarapan pada
anak adalah sulitnya membangunkan anak dari tidurnya untuk sarapan (59
persen), sulit mengajak anak untuk sarapan (19 persen), sulit meminta
anak menghabiskan sarapan (10 persen) dan khawatir anak terlambat
sekolah (6 persen).
"Sarapan memiliki sejumlah manfaat bagi anak
usia sekolah karena mencukupi kebutuhan akan gizi seimbang agar mereka
dapat tumbuh baik secara fisik dan mental sehingga penting bagi anak
untuk mengawali kebiasaan sarapan rutin setiap hari untuk memiliki masa
depan yang besar," kata Atiek Fatimah, Senior Brand Manager Blue Band.
Setiap
hari, anak-anak usia sekolah membutuhkan 1800-2050 kkal dan protein
45-50 g untuk melengkapi kebutuhan gizi. Kondisi gizi yang tidak
seimbang, baik kekurangan atau kelebihan gizi, akan mempengaruhi tumbuh
kembang anak dan pengembangan potensinya.
"Aktivitas anak akan
meningkat dimulai sejak jam 6 pagi karena itu kebiasaan sarapan bergizi
menyediakan energi dan nutrisi yang diperlukan untuk menjalani
aktivitas," tambah Dr Soedjatmiko SpA(K), MSi, konsultan ahli tumbuh
kembang anak dalam kesempatan yang sama.
Sementara dari segi
psikologi, membiasakan sarapan merupakan investasi jangka panjang yang
dapat menciptakan generasi tangguh, karena anak terbiasa hidup disiplin
dan teratur, memiliki emosional terkendali karena selalu merasakan momen
kebersamaan dalam keluarga.
"Kebiasaan sarapan memberikan
interaksi timbal balik reguler dari orangtua kepada anak sehingga anak
siap bersosialisasi di sekolah," tutur Roslina Verauli, seorang psikolog
perkembangan anak dan remaja.
Menyadari pentingnya sarapan itu,
Blue Band mengadakan serangkaian kegiatan bertajuk Blue Band Breakfast
Goes To School. Yaitu kampanye 21 hari sarapan yang akan melibatkan
100.000 siswa di 300 sekolah yang berada di 6 kota di Indonesia di
Jabodetabek, Jawa Barat, DIY, Jawa Tengah, Sumatera Utara dan Sulawesi
Selatan.
sumber : Imam Fadhlal