Setelah mereka bertatap muka, orang
bijak ini menanyakan, "Pemuda, bisakah Anda memberitahu saya maksud
kedatangan Anda di sini?" Pemuda itu diam sebentar, lalu berkata,
"Begini, saya ada sedikit masalah, dan berharap Bapak bisa membantu saya.
Saya adalah seorang salesman yang mana penghasilan saya sangat bergantung pada
penjualan. Jika pada hari tersebut saya tidak berhasil menutup penjualan apa
pun, maka saya tidak akan punya uang sama sekali. Masalahnya saya memiliki rasa
takut yang besar, takut untuk menawarkan barang dagangan saya. Hal inilah yang
sangat mengganggu saya akhir-akhir ini. Ini membuat saya tidak begitu maksimal
dalam pekerjaan saya. Apakah Bapak bisa memberi sedikit saran untuk saya?"
Mendengar keluhan salesman tersebut,
orang bijak tadi merenung dan memikirkan sesuatu. Tak lama kemudian ia berkata,
"Hai, pemuda! Sebenarnya masalahmu bukan masalah yang besar, semua orang
juga punya masalah seperti ini. Hanya saja masalahmu sudah mempengaruhi
kinerjamu, hingga kamu tidak bisa bekerja secara maksimal. Begini saja, saya
akan membawamu ke beberapa tempat dan akan saya tunjukkan bahwa masalahmu
tidaklah berarti apa-apa."
Ia pergi bersama dengan salesman
tersebut ke sebuah café yang menjual segala macam mie. Ia menyuruh pemuda
tersebut memesan makanan yang tidak ada, yaitu pizza, empek-empek, gulai kepala
ikan dan jus durian. Pemuda tersebut melawan karena pasti akan ditertawakan.
Orang bijak berujar, "Lakukan saja apa yang saya suruh. Nanti kamu akan
tahu sendiri." Pelayan datang dan bertanya, "Mau pesan apa?"
Keringatnya mulai mengalir karena takut. Kemudian dengan terbata-bata ia
berkata, "Ma...mau pe...pesan pizza". "Oh, itu kita tak ada,
yang lain?" Ia melanjutkan, "Kalau be...begitu pesan
empek-empek." Pelayan mulai tersenyum, "Wah, kalau itu juga tak
ada". Ia semakin takut, dan mukanya merah padam, "Saya pesan gulai
ke...kepala ikan dan jus...jus durian." Pelayan tersebut mulai tersenyum
kecil dan berkata, "Mas, kami hanya ada jual mie, yang lain tidak ada, apa
mas tidak lihat di depan tadi?" Orang bijak memotong pembicaraan,
"Oh. Kita salah, kalau begitu kami tidak jadi pesan, maafkan kami." "Tidak
apa-apa. Terima kasih" ujar pelayan.
Kemudian mereka keluar dan menuju
tempat lain, yaitu apotik. Orang bijak itu berkata, "Sekarang kamu pergi
ke apotik itu dan beli mie instan. "Apaaaa!" kata pemuda itu. Orang
bijak tersebut memaksanya pergi. Maka, ia pun pergi meskipun terpaksa. Setiap
langkah membuat jantungnya seakan mau lepas saking takutnya. Sesampainya di
apotik dan ditanya oleh pegawainya, "Mau beli apa?" Ia bengong dan
diam. "Ada yang bisa dibantu?" Ia kaget dan sadar. Ia takut, tapi
memberanikan diri bertanya, "Sa...sa...saya mau beli mie instan 1
kotak." "Ha..ha..ha. Aduh, jangan bercanda dong, ini kan apotik"
ujar pelayan itu dengan senyum sambil menggaruk kepala. Ia membalas, "Oh.
Saya salah tempat. Terima kasih." Ia pun pergi.
Orang bijak membawanya ke tempat
terakhir dan berkata, "Ini yang terakhir." Ia membawa pemuda itu ke
toko bahan bangunan dan memberi perintah, "Sekarang beli bubuk kopi 1
kilo!" Pemuda itu lemas, berkata, "Pak, tolong dong. Ini maksudnya
apa sih?" "Lakukan dan nanti akan kujelaskan." Kata orang bijak
itu. Pemuda itu menuju ke toko dan bertanya, "Pak, tolong bubuk kopi 1
kilo." Pegawai toko terdiam sebentar, memandangnya dengan tatapan aneh dan
berkata, "Anda tidak salah nih, ini kan toko besi, kalau bubuk semen ada.
Anda salah masuk." "Oh, iya ya. Maaf." Kata pemuda itu dan
buru-buru pergi.
Mereka pun pergi dari toko dan orang
bijak itu membawanya ke taman dan duduk. Ia bertanya, "Apakah Anda tahu
maksud dari ini semua? Apakah Anda tahu mengapa saya menyuruh Anda melakukan
hal-hal yang tak masuk akal?" Pemuda itu menggelengkan kepala. Ia
menjawab, "Nak. Kamu lihat tadi. Walaupun kamu memesan yang aneh-aneh,
mereka tetap tidak marah, kan? Mereka berpikir kamu hanya bercanda. Itulah yang
terjadi padamu. Rasa takutmu terlalu berlebihan. Sebenarnya apa yang kamu
takutkan itu jarang terjadi. Kamu memikirkan banyak hal yang kamu takutkan akan
terjadi, tetapi kenyataannya itu tidak pernah terjadi. Masalahmu hanya terletak
pada dirimu sendiri. Pikiranmu sendiri yang membuat dirimu menjadi takut, padahal
belum tentu seperti itu kenyatannya. Semoga pengalamanmu tadi berguna
untukmu."
Pemuda itu tersadar dan senyum
menghiasi wajahnya. Ia berkata, "Terima kasih banyak, pak! Sekarang saya
tahu, meskipun saya tadi meminta hal-hal yang aneh, mereka tidak marah.
Seharusnya saya tidak boleh takut lagi, karena apa yang saya tawarkan itu masuk
akal, bukan menawarkan barang yang aneh-aneh. Terima kasih, pak, hal ini
membuat saya sadar."
Pesan kepada pembaca,
Setiap orang pasti memiliki yang
namanya ketakutan. Ketakutanlah yang menjadi musuh setiap orang dalam usahanya
meraih sukses. Untuk meraih sukses, pasti dibutuhkan action atau tindakan nyata
untuk mewujudkannya. Sayangnya, rasa takut membuat sebagian orang berhenti.
Kadang-kadang, rasa takut tersebut terlalu besarnya, sehingga mempengaruhi
kinerja dan performa seseorang.
Perlu Anda ketahui bahwa orang yang
sukses bukanlah orang yang tidak mempunyai rasa takut. Mereka juga memilikinya
sama seperti Anda. Yang membedakan adalah, mereka tetap bertindak meskipun
ketakutan muncul. Sedangkan orang-orang yang gagal membiarkan rasa takut
menghentikan mereka. Mereka terlalu memikirkan akibat-akibat yang tak
menyenangkan seperti takut ditolak, ditertawakan, diejek, atau dihina. Mereka
memikirkan 1001 akibat negatifnya padahal apa yang mereka takutkan sering kali
tidak pernah terjadi.
Rasa takut muncul dari pikiran Anda
sendiri, Andalah yang membuat diri sendiri menjadi takut. Jangan biarkan rasa
takut mempengaruhi Anda, tetapi taklukkan rasa takut Anda melalui tindakan,
sehingga mental Anda akan menjadi semakin baik.
sumber nuruz zaman
Tidak ada komentar:
Posting Komentar